KPA.BALIPROV.GO.ID. Dalam situs https://www.alomedika.com/deteksi-dini-tbc-pada-orang-dengan-hiv-aids , artikel dr Fredy Rodeardo Maringga yang direvisi oleh dr. Roshni Manwani mengungkapkan, pada beberapa negara, kematian terjadi pada 50% pasien saat menjalani pengobatan tuberkulosis, biasanya dalam 2 bulan setelah pasien didiagnosis tuberculosis (TBC). Diagnosis tuberkulosis yang terlambat, kemungkinan merupakan penyebab penting tingginya mortalitas.

Artikel tersebut juga menegaskan bahwa sampai saat ini, tidak ada pedoman skrining TBC pada pasien yang terinfeksi HIV yang diterima secara internasional, dan dijadikan kebijakan kesehatan global. Pemeriksaan foto toraks dan pewarnaan basil tahan asam sputum relatif tidak sensitif untuk mendeteksi tuberkulosis pada orang dengan HIV-AIDS.

Selain itu, banyak  Orang Dengan HIV (ODHIV) yang tidak bergejala, memiliki hasil foto toraks yang normal, dan sputum BTA negatif masih mungkin memiliki hasil kultur sputum positif tuberkulosis.

Akan tetapi disebutkan bahwa pedoman WHO yang terbaru pada tahun 2011 merekomendasikan semua penderita HIV harus secara teratur diskrining TBC dengan algoritma klinis pada setiap kunjungan ke fasilitas kesehatan atau setiap kali berkontak dengan petugas kesehatan.

Pedoman ini didasarkan pada hasil metaanalisis yang dilakukan oleh Getahun, et al. Metaanalisis ini menilai metode skrining berdasarkan gejala untuk skrining TBC pada ODHIV. Gejala yang dimaksud, yaitu : Batuk aktif, Demam, Keringat malam hari dan Penurunan berat badan.

ODHIV yang tidak memiliki salah satu dari keempat gejala tersebut kecil kemungkinannya menderita TBC aktif. Metode skrining berdasarkan gejala ini merupakan metode terbaik untuk skrining TBC pada ODHIV di wilayah dengan sumber daya yang terbatas. Metode skrining ini memiliki sensitivitas 79% dan spesifisitas 50%.

Pada populasi penderita HIV dengan prevalensi TBC 5%, negative predictive value (NPV)-nya sebesar 97,7% (95%CI 97,4-98,0) yang menunjukkan bahwa mereka yang hasil skriningnya negatif kemungkinan besar tidak sedang menderita TBC sehingga dapat memulai terapi profilaksis dengan isoniazid.

Rekomendasi ini dapat diterapkan pada seluruh penderita HIV tanpa memperhatikan derajat imunosupresinya, pada ODHIV yang sudah dalam terapi ART dan pada ODHIV wanita yang sedang hamil.

Metaanalisis yang sama menunjukkan bahwa tidak adanya gambaran abnormal pada foto toraks sebagai tambahan four-symptom-based rule meningkatkan sensitivitasnya dari 79% menjadi 91% dengan penurunan spesifisitas dari 50% menjadi 39%. Pada populasi penderita HIV dengan prevalensi TBC 5%, NPV naik 1% menjadi 98,7%.

Sedangkan pada populasi ODHIV dengan prevalensi TB 20%, NPV naik 4% menjadi 94,3%. Hasil ini menunjukkan bahwa foto toraks dapat dipertimbangkan sebagai tambahan pada metode skrining berdasarkan gejala pada situasi prevalensi TBC yang tinggi pada ODHIV.

Namun, peningkatan sensitivitas dan NPV harus diiringi dengan peningkatan kebutuhan biaya, berat kerja, infrastruktur, dan staf yang kompeten. Oleh karena itu, WHO merekomendasikan bahwa metode skrining berdasarkan gejala tetap dilakukan tanpa memperhatikan ketersediaan foto toraks.

ODHIV  yang memiliki satu dari empat gejala (batuk aktif, demam, penurunan berat badan, atau keringat malam) memiliki kemungkinan menderita TBC aktif dan harus dievaluasi untuk TBC dan penyakit lainnya sesuai dengan pedoman nasional masing-masing negara.

Sementara itu, Diagnosis TBC pada anak-anak baik itu yang menderita HIV maupun tidak memang lebih sulit dan klinisi harus terus memiliki tingkat kecurigaan yang tinggi. Riwayat kontak dengan penderita tuberkulosis di rumah adalah hal yang sangat penting dan merupakan satu alasan kuat bagi petugas kesehatan untuk melakukan skrining TBC pada anak dan anggota keluarga lainnya.

Hasil penelitian menunjukkan beberapa sistem skoring yang ada untuk mendiagnosis TBC pada anak tanpa HIV tidak efektif untuk digunakan pada anak penderita HIV. Sebuah studi yang tidak dipublikasi menunjukkan bahwa tidak adanya batuk yang lebih dari dua minggu, demam, dan gagal tumbuh menunjukkan bahwa kemungkinan besar anak penderita HIV tidak menderita TBC aktif dan boleh menjalani terapi profilaksis isoniazid.

Gagal tumbuh yang dimaksud adalah penurunan berat badan atau berat badan sangat rendah (weight for age < -3 Z score) atau underweight (weight for age < -2 Z score) atau kurva pertumbuhan yang cenderung melandai.

Metode skrining ini memiliki NPV sebesar 99% dengan sensitivitas 90% dan spesifisitas 90%. Untuk meningkatkan deteksi TBC pada anak menderita HIV, WHO merekomendasikan durasi batuk tidak diperhitungkan dan hanya menilai apakah anak tersebut sedang memiliki keluhan batuk atau tidak, sama seperti rekomendasi pada orang dewasa.

Rekomendasi ini hanya berdasarkan pendapat ahli dan klinisi perlu memperluas kemungkinan diagnosis banding yang dapat menyebabkan anak penderita HIV memiliki gejala tersebut. Kesimpulannya, pedoman WHO tahun 2011 merekomendasikan metode skrining TBC pada anak penderita HIV dengan mencari gejala sebagai berikut : Gagal tumbuh, Demam, dan Batuk aktif berapapun durasinya.

Anak penderita HIV yang tidak mengalami salah satu gejala tersebut kemungkinan besar tidak menderita TBC aktif dan harus mendapat terapi profilaksis isoniazid. Sejalan dengan itu, anak penderita HIV yang memiliki salah satu dari gejala berikut, gagal tumbuh, demam, batuk aktif, dan kontak dengan penderita TBC,  mungkin menderita TBC aktif dan harus menjalani evaluasi lebih lanjut.***Sumber : www.alomedika.com

[WPPV-TOTAL-VIEWS]  x di lihat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *